Monday, August 17, 2015

Exploring Papandayan on Kung-fu Shoes: 1st Mountain Climbing Experience

Pada 21 Juli 2015,
aku sedang asyik menikmati indahnya debur ombak salah satu pulau resort di kepulauan seribu.
Tiba-tiba aku mendapat SMS.

"Vinn, akhir pekan ini aku mau naik gunung Papandayan. Kamu mau ikut?"

Sebuah ajakan untuk mendaki gunung dari Gita,
salah seorang teman ku yang sudah sering mendaki gunung.
"Asyik dong?! Aku ikut!" jawab ku setelah bertanya detail
mengenai kapan berangkatnya dan kapan kembali ke Jakarta.
Maklum sisa cuti ku tahun ini sudah hampir habis hehehe...
Namun ternyata perjalanan ke Papandayan tidak perlu cuti, karena kita memulai perjalanan dari Jum'at malam, dan kembali ke Jakarta pada Minggu malam.

Ini adalah pertama kalinya aku naik gunung. Aku sama sekali tidak punya peralatan mendaki gunung. Jadi aku menyewa beberapa perlengkapan, seperti tas gunung, matrass, dan sleeping bag.
Untuk alas kaki, karena aku tidak punya sepatu gunung, aku nekat menggunakan sepatu model kungfu shoes.

Perjalanan ku mulai dari terminal bus Kampung Rambutan.
Aku dan teman-teman berangkat menuju Garut dari terminal Kp. Rambutan jam 11 malam, 
dan tiba di terminal Guntur, Garut pukul 3 dini hari.
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Desa Cisurupan menggunakan angkot.
Desa Cisurupan terletak di kaki Gunung Papandayan.
Sebelum pendakian di mulai, kami istirahat sejenak.
Ada yang sarapan pagi di warung nasi, dan ada juga yang sholat subuh di masjid. 

Siluet gunung Cikuray terlihat dari halaman masjid desa Cisurupan di kaki gunung Papandayan.

Dari Desa Cisurupan kami naik truk pick-up sampai ke pintu masuk jalur pendakian, lalu aku dan kawan-kawan memulai pendakian dengan pemanasan dan berdoa bersama.


Pendakian diawali dengan jalur bebatuan.



Sekitar 45 menit pendakian, aku tiba di area dengan aroma sulfur. 


Perjalanan mulai terasa berat saat mulai masuk ke jalur penuh debu pasir yang sempit dan menanjak.





Karena ini pertama kalinya aku naik gunung, berjalan di jalur seperti itu sambil membawa carrier bag yang cukup berat di punggung sebenarnya sangat melelahkan. Ditambah dengan terik matahari yang terasa sangat panas. Di saat seperti itu aku teringat betapa enaknya kamar ku di rumah, dilengkapi dengan AC, berselonjor di atas spring bed yang empuk, malas-malasan berkutat di depan layar laptop sambil minum air kelapa kemasan dingin yang dibeli di minimarket.
Tapi rasanya malu dan gengsi kalau menyerah begitu saja.

Setelah beberapa lama berjalan, aku disuguhi pemandangan indah pegunungan yang hijau.
Sesekali, kalau ada angin berhembus, udara sejuk pegunungan terasa sangat menenangkan.




Akhirnya setelah 4 jam pendakian, aku dan teman-teman seperjalanan tiba di area camping Pondok Saladah. Karena ingin lekas istirahat, kami bersemangat segera mendirikan tenda.


Gunung Papandayan dengan ketinggian 2.665m termasuk gunung yang cocok sebagai tujuan pendakian bagi pendaki pemula seperti aku. Karena menurut teman ku Gita, trek Papandayan termasuk pendek dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya di nusantara. Selain itu, sumber air di Papandayan melimpah. Jadi tidak sulit untuk mencari air untuk masak dan minum.

Hasil jepretan iseng di Pondok Saladah
Setelah senja berganti malam, langit di Pondok Saladah dihiasi bintang-bintang. Aku mencoba untuk mengabadikan langit malam Papandayan, namun karena tidak bawa tripod, hanya bermodal kamera seadanya, hasilnya kurang memuaskan.


Lagipula saat itu baru pukul 22:30, masih terlalu dini untuk melihat gugusan milky way dengan jelas. Karena sudah lelah, akhirnya aku memutuskan untuk tidur.

Jam 5 subuh aku bangun dan segera keluar tenda.
Dituntun oleh Gita, bersama beberapa orang teman ku,
kami mencari spot yang bagus untuk menyaksikan sunrise.


Matahari sedikit demi sedikit mulai muncul dari ufuk timur.
Berawal dari garis jingga, perlahan sang surya menampakkan wujudnya. 


Lalu pukul 10:00 kami bergegas ke salah satu tempat yang menjadi daya tarik Papandayan, yaitu hutan mati.


Hutan ini terkena erupsi pada tahun 2002, merubah sebagian hutan Papandayan menjadi sebuah panorama pepohonan kering nan eksotis.


Tidak puas dengan hutan mati, kami melanjutkan perjalanan dengan trek pendakian penuh debu yang menanjak curam. Hingga akhirnya tibalah kami di Tegal Alun, sebuah padang yang luas penuh dengan Edelweiss.


Rasa lelah saat pendakian tidak seberapa dibandingkan
dengan pengalaman dan pemandangan hijau Papandayan yang aku dapatkan.

Edelweiss merupakan spesies tumbuhan yang dilindungi karena semakin langka.
Dilarang untuk memetik ya!
Pendakian gunung Papandayan kali ini membuat ku sadar bahwa selama ini aku selalu berada di comfort zone. Bisa menikmati banyak fasilitas ibukota yang serba ada, dan sering lupa bersyukur atas segala berkah hidup yang ku nikmati. Segala yang ku alami dalam pendakian kali ini membuka mata ku, membuat ku ingin berusaha agar menjadi orang yang lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

Notes:
  • Sebaiknya persiapkan dengan baik pakaian yang ingin dibawa. Tidak disarankan membawa jeans, karena katanya bahan jeans bisa menyerap panas dan dingin, juga menyebabkan kulit paha dan kaki lecet. Gunakanlah celana yang nyaman untuk pendakian.
  • Dianjurkan untuk menggunakan sepatu gunung, namun sepatu gunung bukan suatu kewajiban. Gunakanlah sepatu yang tidak licin.
  • Topi sangat bermanfaat untuk melindungi kepala dari panas matahari. Kacamata berguna untuk mencegah debu dari jalur tanjakan masuk ke mata. Jangan lupa untuk membawa masker, agar tidak menghirup sulfur dan debu terlalu banyak.
  • Untuk pemula, ada baiknya ikut open-trip yang diselenggarakan oleh travel agent. Klik disini untuk tahu lebih lanjut.



No comments:

Post a Comment