Tuesday, November 15, 2016

Taman Nasional Tanjung Puting: Camp Leakey

Hai apa kabar mu? Udah lama banget gak mulai artikel dengan pertanyaan ini hehehe...
Kamu sudah baca artikel ku tentang perjalanan untuk melihat orangutan di Pondok Tanggui sebelumnya kan?

Hi, how are you? It's been a while since I started my article with this question hehehe...
You already read my previous article about my trip to see orangutan at Pondok Tanggui don't you?  

Kali ini aku mau ceritain tentang kelanjutannya nih. Jadi di Taman Nasional Tanjung Puting, ada beberapa tempat rehabilitasi orangutan. Selain Pondok Tanggui yaitu ada Camp Leakey.

Now I am going to tell you what happened next. So, in Tanjung Puting National Park, there are some orangutan rehabilitation spot. Aside Pondok Tanggui, there is also Camp Leakey.

Oiya kamu sudah lihat kan foto perjalanan ku menuju Pondok Tanggui menggunakan speedboat melewati Sungai Sekonyer yang airnya berwarna seperti susu coklat? Nah, dalam perjalanan menuju Camp Leakey, ada sebuah titik di mana airnya terbagi menjadi dua warna. Warna susu coklat dan warna hitam pekat.

You also already saw the photo of my trip using speedboat to Pondok Tanggui through Sekonyer River which it's water colored like chocolate milk, right? On our way to Camp Leakey, there is a point where the color divides into two. Chocolate milk and pitch black.



Sebetulnya bukan hitam sih, lebih tepatnya merah. Warna ini berasal dari akar pepohonan di tepi sungai. Karena terlihat seperti berwarna hitam pekat, air sungai jadi memantulkan pemandangan yang ada di sekeliling kami seperti cermin.

Actually it's not really black, more precisely red. This color is coming from roots of the trees on the riverbank. Because it looks like pitch black, the water reflects all the scenery around us like mirror.



Perubahan warna air Sungai Sekonyer ini memberikan kesan mistis bagi ku. Airnya dingin dan jernih sebetulnya kalau ditampung di telapak tangan. Tapi karena warna dari luar terlihat hitam, jadinya agak takut kalau tiba-tiba ada buaya menerkam. Soalnya Sungai Sekonyer ini merupakan salah satu habitat buaya di Kalimantan Tengah. Menurut pemandu kami, ada dua jenis buaya yang hidup di sungai ini, yaitu buaya muara dan buaya sapit.

The color change of Sekonyer River have a mystical impression for me. The water was cold and clear if you try to take it on your palm. Due to it's black color, I'm afraid if suddenly there'll be crocodile appear. For your information, Sekonyer River is one of crocodile's habitat in Central Kalimantan (Central Borneo). According to our guide, there are two types of crocodile living in this river, saltwater crocodile and false gharial.

Trees around us reflected perfectly by the river water, like a mirror.
Singkat cerita, aku dan kawan ku sampai di dek Camp Leakey, salah satu tempat rehabilitasi orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (selanjutnya disingkat jadi TNTP).

In short, me and my friend arrived on a deck near Camp Leakey, one rehabilitation spot in Tanjung Puting National Park (shortened to TPNP).


Nah di dekat dek ada seekor orangutan yang sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Beberapa wisatawan menyempatkan diri untuk berfoto dengan makhluk berbulu ini. Kata pemandu kami, si cantik ini bernama Siswi.

Then near the deck there is an orangutan that already used to be near humans. Some tourist use this chance to take picture with the furry creature. Our guide told us that her name is Siswi.

Deg-degan banget foto sama orangutan. Bukan deg-degan takut, tapi excited hehe.
Yesss! Akhirnya salah satu keinginan ku tercapai. Foto bareng orangutan asli TNTP! Hehehe...
Si Siswi ini katanya sedikit nakal. Kalau lihat pengunjung buka tas, dia langsung mendekat dan mencoba merogoh isi tas, karena dia pikir pengunjung yang buka tas mau kasih dia makanan. Makanya supaya orangutan di TNTP gak nakal, kalau kalian datang ke sini, jangan kasih makan orangutannya. Pada dasarnya memang pengunjung dilarang untuk memberi makan orangutan. Karena orangutan ini berbeda dengan manusia. Dia sensitif kalau salah-salah menelan makanan, dan juga dikhawatirkan dalam makanan ada kontaminasi zat-zat yang membahayakan hidupnya orangutan ini.

Yesss! At last one of my wish came true. Take a picture with real orangutan in TPNP! Hehehe...
Siswi is a bit naughty. If she sees a tourist open his bag, she get closer to the tourist fast and will try to grab something inside the bag, because she thinks that the tourist opened the bag to take food to feed her. That is why in order to make orangutans in TPNP to be obedient, if you are coming here, please do not feed the orangutan. Because orangutan is different with human. They are more sensitive, and there is a risk that the food you give to orangutan contains something dangerous for them.

Oiya, di Camp Leakey ini juga ada pusat informasi tentang TNTP.

Oh and also there is an information center about TPNP here in Camp Leakey.


Di tempat ini kalian bisa menemukan berbagai informasi yang berkaitan dengan orangutan dan Taman Nasional Tanjung Puting. Sedikit bocoran nih, salah satu perintis konservasi orangutan di Camp Leakey ini adalah seorang wanita ahli primatologi asal Jerman, yaitu Prof. Dr. Birute Galdikas. Tempat ini bernama Camp Leakey diambil dari nama seorang ahli paleoantropologi legendaris bernama Louis Leakey, yang merupakan guru dari Dr. Galdikas.

In this place you can get lots of information related to orangutan and Tanjung Puting National Park. Camp Leakey was established by a German-born primatologist, Prof. Dr. Birute Galdikas. This place was named after the legendary paleo-anthropologist, who was a mentor to Dr. Galdikas.

Katanya ini adalah foto Prof. Dr. Galdikas waktu masih muda.
Setelah puas melihat-lihat di dalam pusat informasi, aku dan kawan ku melanjutkan perjalanan menuju feeding spot karena saat itu sudah mendekati feeding time pukul 14:00. Kali ini kami trekking cukup jauh, sekitar 20 menit, hingga akhirnya ketika hampir sampai, kami bertemu dengan seekor orangutan yang sedang berdiri dekat pohon.

After I finished looking around the information center, me and my friend continue our journey to the feeding spot because it's almost 14:00. This time we went trekking on a bit longer track, took around 20 minutes, and when we almost arrived, we met with an orangutan standing near a tree.


Selain itu, kali ini juga ada mommy orangutan dan baby orangutan di atas pohon tidak jauh dari kami. Ini menandakan bahwa feeding spot sudah tidak jauh lagi, karena sepertinya mereka memang sedang menunggu feeding time.

Furthermore, there were also mommy orangutan and baby orangutan up on the tree not far from us. Which means that the feeding spot is near, because it seems like they were waiting for the feeding time.


Jadi, baby orangutan ini akan terus berpegang kuat pada rambut dan tubuh induknya, dan dia tidak akan berpisah sampai umurnya 6 bulan atau lebih. Menurut ku justru baby orangutan lah yang paling menggemaskan pada perjalanan kali ini. Walaupun menggemaskan, orangutan tidak boleh dipelihara loh! Sejak tahun 1931 sudah ada hukum yang melarang seseorang untuk memiliki, membunuh, menangkap, atau melukai orangutan di Indonesia.

So, baby orangutan will always cling to it's mother's hair and body, never leaving her for the first 6 months of it's life. I think baby orangutan was the cutest on this journey. Even they are so cute, we are not allowed to have orangutan as a pet. Since 1931 there is a law against owning, killing, capturing and harming orangutans  in Indonesia.

Pukul 14:00 feeding time dimulai. Beberapa ekor orangutan mulai mendekati area tengah tempat staf TNTP meletakan buah-buahan sebagai makanan orangutan.

When it's finally 14:00 the feeding time starts. Some orangutans get closer to the middle area where the TPNP staff put some fruits for the orangutans.



Kali ini bukan hanya orangutan saja yang hadir, ada satwa hutan lain yang ikut serta pada feeding time kali ini.

This time, not only orangutans, there was also another wildlife came to the feeding time.


Babi hutan ini muncul dan dengan sabar menunggu di bagian bawah tempat orangutan menyantap makanan mereka, berharap ada sebagian makanan orangutan yang jatuh. Setelah selesai dengan santapan mereka, beberapa ekor orangutan kembali ke atas pohon.

This wild boar came and wait patiently for foods falling down under the platform where the orangutans eat. After they finished eating, some orangutans went away up climbed the trees.


Kalau melihat mereka, rasanya senang karena seakan mereka hidup tanpa ada beban. Padahal sebetulnya hidup mereka sangat terancam. Salah satunya seperti kasus kebakaran hutan pada 2015 silam di Kalimantan.

Looking at how free they live made me feel happy, imagining a carefree life without burden. Although actually their life is threatened. One of the threatening case was the forest fires on last 2015 in Kalimantan.


Selain itu pada Juli 2016 lalu, IUCN telah merubah status orangutan dari "terancam punah" menjadi "kritis terancam punah," hanya satu langkah menuju status "kepunahan." Faktor yang menyebabkan hal ini karena orangutan banyak diburu dan ditekan keluar dari habitatnya. Selain itu, perkembangbiakan orangutan yang lambat juga menjadi salah satu sebab sulitnya mengembalikan status konservasi orangutan.

Other than that on last July 2016, IUCN already change orangutan's conservation status from "endangered" to "critically endangered," only one step to "extinction." The factor that caused this was because orangutan was often hunted and pushed away from their habitat. Moreover, the slow reproduction of orangutan is also the cause of how difficult it is to restore the conservation status of the orangutans.

Faktor lainnya adalah perubahan fungsi hutan hujan Kalimantan menjadi lahan kebun kelapa sawit, karet, dan kertas. Dengan kata lain, ancaman terbesar bagi orangutan adalah MANUSIA.

Another factors are the change of function of Kalimantan rainforest into paper, rubber and palm oil plantations. In other words, orangutan's most threatening factor is HUMAN.

Seharusnya kita manusia, sebagai spesies yang lebih pintar dari orangutan, bisa berusaha untuk tetap membuat hidup manusia sejahtera namun juga sambil mejaga kelestarian fauna langka seperti orangutan. Sayangnya tidak semua manusia memiliki kesadaran bahwa yang hidup di dunia ini bukan hanya manusia.

We humans as a more intelligent species than orangutan should try to live prosperously while protecting the preservation of rare wildlife like orangutan. Unfortunately not all humans have the awareness of it's not only human that lives in this world.

Nah mumpung masih ada waktu, tidak perlu sampai harus langsung ke Taman Nasional Tanjung Puting, namun alangkah baiknya kalau kita coba mulai tanamkan kesadaran bahwa ada spesies yang hidupnya terancam. Sangat disyukuri kalau kalian juga mau ikut serta dalam usaha pelestarian orangutan dengan bentuk apapun yang positif.

Well there is still enough time, you don't have to go directly to Tanjung Puting National Park, but it will be a good start for us to understand that there are endangered species. It will be better if you also can participate in the effort of preservation of orangutan in any kind of positive actions.


Kalau sudah ada niat, nah giliran kalian untuk coba mengunjungi orangutan di habitat mereka :)

If there is a will, then it's your turn to visit them in their habitat :)

Glosarium
IUCN: International Union for Conservative of Nature.
Paleoantropologi: Ilmu yang mempelajari asal usul dan perkembangan manusia dengan fosil manusia purba sebagai objek penelitiannya dan merupakan salah satu dari cabang ilmu Biologi.


Source:
Pusat Informasi Carolyn Townson, Camp Leakey
Tempo.co
orangutan.org

2 comments:

  1. hai,salam kenal
    saya lumayan sering ke palangkaraya karna ada kakak yang tinggal disana,dan pengen banget ke TNTP tapi ga tau rute yang harus ditempuh dr palangkaraya kesana itu bagaimana dan transportasi apa aja yang digunakan.boleh kasih infonya ga?terakhir ke palangkaraya cuman mampir di TN Nyaru Menteng (bener ga ya namanya?,yg ga jauh dr kota palangkaraya.
    mohon petunjuknya,terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai salam kenal,
      setau saya kalau dari Palangkaraya bisa naik bus/ travel ke Pangkalan Bun, sebaiknya booking tiket dulu terutama kalau mau jalan saat high season, bisa coba cari travelnya di google. Nanti dari Pangkalan Bun ke pelabuhan Kumai tidak terlalu jauh. Dari Kumai bisa naik kelotok atau speedboat. Iya kalau di Palangkaraya TN Nyaru Menteng ya :)

      Delete