Siapa yang suka rasa manis?
Sepertinya gak ada yang gak suka rasa manis ya?
Walau beberapa orang pasti punya preferensi kadar manis yang disukai, tapi aku pikir semua orang suka rasa manis.
Who doesn't like sweet taste?
I think there is nobody don't like sweet taste right?
Even though everyone have their own preference of sweetness to consume, I think everybody loves sweet taste.
Omong-omong tentang rasa manis, di Indonesia ada sebuah kota yang disebut kota manis. Kota ini terletak di Kalimantan Tengah, kabupaten Kotawaringin Barat. Nama kota ini adalah Pangkalan Bun. Sampai dua tahun yang lalu aku sama sekali tidak tahu tentang keberadaan kota ini loh. Padahal kota ini merupakan gerbang untuk destinasi wisata yang masuk salah satu bucket list ku: Taman Nasional Tanjung Puting!
Anyway speaking of sweet taste, in Indonesia there is a city named "kota manis" (sweet city?). This city is located in Central Kalimantan, West Kotawaringin regency. This city's name is Pangkalan Bun. Until two years ago I really have no idea about this city's existence. The truth is this city is the gate to one of my bucket list travel destination: Tanjung Puting National Park!
Nah mungkin kalian gak terlalu tahu tentang Pangkalan Bun. Makanya, kali ini aku mau cerita tentang pengalaman ku mengunjungi kota manis pada Juli 2016 lalu.
Probably all of you still don't know yet about Pangkalan Bun. That's why I am going to tell you about my experience visiting this sweet city on July 2016.
| Tugu Pancasila |
Untuk bisa ke Pangkalan Bun, rute yang paling mudah adalah via udara. Ada 2 penerbangan dari Jakarta perharinya yang langsung ke Pangkalan Bun. Kalstar atau Trigana Air. Setibanya di Bandar Udara Iskandar Pangkalan Bun, kita akan mulai merasakan betapa teriknya matahari di kota ini. Panas sih, tapi beda dengan panasnya Jakarta yang berpolusi. Di kota ini tidak terlalu banyak kendaraan bermotor, jadi kalau naik motor gak pakai masker aku masih merasa aman-aman saja.
To reach Pangkalan Bun, the easiest route is by air. There is 2 direct flight every day from Jakarta to Pangkalan Bun. Kalstar or Trigana Air. After the arrival in Pangkalan Bun, we can feel the hot atmosphere because of the blazing sun. But it's a bit different from Jakarta because there is still no pollution here. Motor vehicles in here is not as much as in other big cities, so I still feel safe to ride motorbike without using mask.
Setelah keluar dari Bandara Iskandar, kamu akan menemukan Bundaran Pancasila. Ini merupakan bundaran paling hits di Pangkalan Bun karena disekitarnya banyak tempat-tempat makan untuk hangout yang sering dikunjungi penduduk setempat, terutama kawula muda. Nah, kalau bicara soal makanan, salah satu makanan khas Pangkalan Bun yang sempat ku cicipi adalah kue Bingka.
After leaving Iskandar Airport, you'll find Bundaran Pancasila. The most popular roundabout in Pangkalan Bun because it is surrounded by cafes and restaurants, especially for young people to look for food or hangout. Speaking of food, one food we can only find in Pangkalan Bun that I tasted is kue bingka.
| Kue bingka. |
Kue bingka is made from potatoes and flour. The taste is sweet and soft. There are some variety of kue bingka. There are yellow one, green one, and even the wet one. Actually they also have special dish named soto manggala, some kind of soup, but unfortunately I don't have the chance to taste it.
Setelah puas icip-icip kue bingka dan kue-kue lainnya, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke sebuah tempat bersejarah di kota manis ini, yaitu Istana Kuning.
After tasting kue bingka and other sweets, I went to visit a historical place in this city, Istana Kuning (Yellow Palace).
Jadi, Istana Kuning ini merupakan istana Kesultanan Kutaringin, sebuah kerajaan di daerah tersebut, dibangun oleh Sultan ke-9 Pangeran Ratu Muhammad Imanuddin (1805-1841). Daerah tersebut diberi nama Kutaringin karena pada awalnya Sultan Kutaringin pertama menemukan tempat ini penuh dengan pohon beringin, Hingga sekarang nama tempat ini berubah menjadi Kotawaringin.
Istana Kuning was a palace of the Kutaringin Empire, a kingdom of that area, built by the 9th Sultan named Pangeran Ratu Muhammad Imanuddin (1805-1841). After that the area was named Kutaringin because when the first Sultan of Kutaringin found this place, there are lots of banyan (beringin) trees. And now the name was changed into Kotawaringin.
Pada waktu itu aku tidak sempat masuk ke dalam, cuma bisa liat-liat situasi dari luar saja. Kemudian aku lanjut ke tempat selanjutnya, yaitu Monumen Palagan Sambi.
I don't have the chance to enter the palace, so I only wander and see the surroundings from the outside. Then I visited another place, the Palagan Sambi Monument.
| Palagan Sambi Monument. |
Palagan Sambi ini terletak di sebelah Bundaran Pancasila, diapit Jalan Iskandar dan Jalan Pemuda. Monumen ini berperan untuk mengenang peristiwa penerjunan payung pertama TNI AU untuk merebut landasan udara dari tangan Belanda. Aksi tersebut dipimpin Letnan Iskandar sebagai komandan operasi bersama pasukannya. Sayangnya, Letnan Iskandar dan dua pasukannya tewas. Akhirnya namanya diabadikan menjadi nama landasan udara di Pangkalan Bun.
Palagan Sambi is located next to Bundaran Pancasila, between Jalan (street) Iskandar and Jalan Pemuda. This monument is to remind the first parachuting act of TNI AU (Indonesian Air Force) to conquer the airport from the Dutch. The act was led by Lieutenant Iskandar and his troops. However Lieutenant Iskandar and two of his troops are defeated. After that the airport in Pangkalan Bun was named after his name.
Sebenarnya kota ini mulai dikenal masyarakat luas sejak dijadikan posko evakuasi pesawat Air Asia QZ 8501 yang jatuh di Selat Karimata. Tapi karena dulu aku jarang nonton TV atau baca berita, jadinya kudet deh, hehehe.
Actually this city is already started to be known worldwide since it was used as evacuation shelters for the accident of Air Asia QZ 8501 airplane that crashed into the Karimata strait. But since I rarely watch TV or read news, I really have no idea back then, hehehe.
Selain itu ada juga rumah tradisional, namanya Rumah Betang. Sejenis rumah panggung yang merupakah rumah adat khas Kalimantan. Sekilas tentang rumah adat ini, Rumah Betang ini merupakah rumah yang dihuni masyarakat Dayak. Menurut beberapa sumber, karena pada umumnya banyak masyarakat Dayak yang tinggal di pinggir sungai, Rumah Betang sengaja dibangun berbentuk rumah panggung yang panjang supaya penghuninya bebas dari banjir air sungai, dan terlindung dari binatang buas, seperti buaya.
Other than that there is this traditional house named Rumah Betang. A house on stilts, traditional house of Kalimantan. Rumah Betang is the house of Dayak tribe. From some source, most of Dayak tribe live on riverbanks. So this house is functioned to protect the residents from flood and wild animals, such as crocodiles.
Untuk mengunjungi Rumah Betang di Pangkalan Bun, dari Bundaran Pancasila kita bisa berkendara ke arah Bandara Udara Iskandar hingga sampai di pertigaan Hypermart Pangkalan Bun atau Borneo Mall. Kemudian belok kanan masuk ke Jalan Pasir Panjang.
To visit Rumah Betang in Pangkalan Bun, from Bundara Pancasila we can drive to the airport route, when we reach Borneo Mall, turn right to Jalan Pasir Panjang.
Kalau terus menyusuri Jalan Pasir Panjang, kita akan sampai di kota pelabuhan, Kumai. Di perjalanan menuju Kumai, kita akan menemukan sebuah bundaran dengan patung-patung orangutan.
If we continue through Jalan Pasir Panjang, we will reach a port city, Kumai. Before we reach Kumai, we will find a roundabout with orangutan statues.
Kenapa koq patung orangutan? Seperti yang ku bilang di awal artikel, dari sini lah kita bisa memulai petualangan untuk mengunjungi orangutan di habitatnya.
Why orangutan? As I said on the top of this article, from here we can start an adventure to visit orangutan at their habitat.
| Orangutan statue at the visitor center. |
Nah untuk ke sana kita bisa berkunjung ke Balai Taman Nasional Tanjung Puting di Kumai. Dari sini kita bisa menyewa kelotok atau speedboat.
To go on that adventure we can visit Tanjung Puting National Park Visitor Center in Kumai. From there we can rent kelotok or a speedboat.
| The air was still clean that you can see the sky clearly :) |
Curious about my adventure to Tanjung Puting National Park? Don't forget to check out for next update on my blog :)
Glosarium
Kelotok: A wooden boat called with roof upper deck, by Average speed of 10 km /hour is a water transportation of Indonesia, particularly in Kalimantan.
Source:
news.detik.com
www.getborneo.com
news.okezone.com
www.getborneo.com
news.okezone.com
keren, perlu juga nih menyusuri tempat2 itu
ReplyDeleteyaa sesekali perlu buat memperluas wawasan
Delete